Jualan Mie Instan dan Burjo, Kantongi Rp 120 Juta/Bulan

210610233200-juala.png

Jualan Mie Instan dan Burjo, Kantongi Rp 120 Juta/Bulan (Foto: Net)

JAVANEWS.INFO I BANDUNG,-

Siapa yang tidak suka dengan mie instan dan bubur kacang ijo (burjo)? Menu andalan tersebut seringkali jadi pilihan terutama bagi kalangan mahasiswa saat akhir bulan.

Peluang itu dilihat oleh Heru Setiawan yang akhirnya memutuskan untuk membuka warung makan indomie (warmindo) pada 2017. Dia membuat konsep bisnis ini menjadi lebih modern dan kekinian, yang biasanya fasilitas kaki lima menjadi bintang lima.

"Warmindo pada umumnya cuma buat makan, lalu orang pergi. Saya pengin orang nggak cuma makan, tapi nongkrong, ngerjain tugas. Makanya saya buat tempat yang bagaimana senyaman mungkin, kita hadirkan WiFi agar ketika habis makan mereka nyaman ngerjain tugas atau apa. Ada keuntungannya mereka bisa repeat order," katanya dalam program d'Mentordetikcom, Rabu (9/6/2021).


Terbukti peluang usaha membuka warmindo dan burjo cukup menjanjikan. Pria yang akrab disapa Kang Ghobank itu kini telah memiliki enam cabang di kota Yogyakarta. Jika dihitung per bulan, omzetnya dari satu outlet bisa mencapai Rp 120 juta.

"Kalau sebelum corona kan kita 24 jam itu rata-rata Rp 3-4 juta omzet/hari. Rp 2 juta itu buat belanja karyawan, operasional segala macam, jadi Rp 2 juta itu profit buat kita di satu outlet. Tapi setelah pandemi ini rata-rata Rp 1,5-2 juta. Memang kita nonstop nggak berhenti karena kustomernya ada terus," tuturnya.

Jika ditarik ke belakang, saat itu modal awalnya mencapai Rp 70 juta dan butuh waktu sekitar 7-8 bulan untuk balik modal. Meski peminatnya banyak, berbisnis warmindo dan burjo butuh modal kesabaran dan konsistensi yang tinggi untuk melawan banyaknya saingan.

"Waktu 3 bulan pertama itu kita jatuh bangun banget dalam artian bisa dikatakan kita nombok bahkan bisa sampai gadai HP, gadai motor," tuturnya.

Pewarta: Rahmat
Editor: Rahmat
©2021 JAVANEWS.TV

Komentar