Diskusi dan Bedah Buku FDK UIN SGD BANDUNG 2021

Menggagas Paradigma Baru Dakwah Era Milenial
  • Redaktur by Wawan Kamis, 25 Mar 2021, 10:05

JAVANEWS.TV | BANDUNG,- Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung melaksanakan kajian diskusi nasional tentang permaslahan dan tantangan dakwah pada era digital, dalam format ā€œDiskusi dan Bedah Bukuā€, dengan tema Rekonstruksi Paradigma Baru Dakwah di era Digitalā€™, dengan menghadirkan Dr. A. Ilyas Ismaā€™il, MA, merupakan dosen dan pengamat dakwah, yang telah menulis buku yang berjudul ā€œMenggagas Paradigma Baru Dakwah Era Milenialā€, dengan menghadirkan narasumber lain sebagai pembanding yaitu Prof. Dr. Dindin Solahuddin, MA, dan Dr. H. Aang Ridwan, moderator Dr. Aep Wahyudin, M.Ag, M.I.Kom,  pada hari Rabu, 24 Maret 2021, yang diselenggarakan secara virtual.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Ahmad Sarbini,M.Ag, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program akademik FDK untuk mengkaji pemikiran kedakwahan secara kontekstual yang sejalin dan sejalan dengan perkembangan zaman, juga untuk memberikan kontribusi pemikiran, gagasan, dan solusi terhadap problematika dan kompleksitas kehidudan ummat manusia sebagai maā€™du terutama kalangan milenial dalam perspektif paradigma dakwah yang lebih konstruktif, universal, dan inovatif di era digital sekarang ini. Acara Diskusi dan Bedah Buku Nasional ini, sekaligus juga dibuka oleh Dekan FDK UIN SGD Bandung, diperuntukan kepada kalangan dosen, mahasiswa, alumni, dan umum.



Acara Diskusi dan bedah Buku nasional ini, selain dihadiri oleh para wakil dekan, kajur dan sekjur, dan dosen FDK juga dihadiri oleh 200 peserta melalui media Zoom, dan yang telah mengisi registrasi sekitar 225 peserta, dari berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, penyuluh agama, kementrian agama, termasuk kalangan masyarakat umum, dari berbagai daerah di Indonesia.

Globalisasi dan Digitalisasi sudah menjadikan arah world-view mengalami perubahan, termasuk perubahan pada interaksi, nilai, dan mindset keagamaan. Sebuah fase postmodern teknologi yang terjadi sekarang ini, membuat manusia hidup yang disebut sebagai era ā€œkebanjiran informasiā€( flood of information), globalisme, interaksi borderless, dan lain-lain.

Paradigma kehidupan masyarakat bergeser dengan cukup drastis. Dalam konteks sebelumnya interaksi secara langsung kepada individu atau kelompok guna memenuhi kebutuhan hidup berlangsung dengan cara konvensional (face to face), akan tetapi, pola tersebut sekarang mulai digeser oleh budaya digital. Hal ini menjadikan tantangan dakwah untuk mencandra paradigma dakwah yang relevan dengan situasi dan perkembangan kehidupan manusia.

Pada masa teknologi dan informasi sekarang ini, diperlukan re-definisi terminologi dakwah yang dimaknai secara monolitic-perpective, bahwa dakwah tidak hanya dimaknai sebagai proses transformasi pesan-pesan ajaran keagamaan secara secara an sich, akan tetapi, nilai-nilai Islam yang disyiarkan adalah nilai-nilai yang dapat bersinggungan dengan perkembangan zaman, salah satunya era digital.

Abad baru memunculkan reaksi rekontruksi terhadap dampak modernitas, dengan melahirkan abad spiritualitas, atau spiritual age (John Naisibit), kebangkitan agama atau relgion is on the rise (Pippa Noris), tuntuan demokrasi, HAM, keadilan dan gender, termasuk universalisme untuk mencegah potensi konflik dan benturan karena perbedaan agama, budaya, dan mazhab politik. Inilah salah satu yang menjadi latar belakang penting yang disampaikan penulis buku Ilyas Isā€™mail.

Ilyas menjelaskan bahwa pentingnya paradigma baru dakwah pada er digital ini, terumata untuk kalangan milenial. Ada dua hal penting dalam hal ini, menurutnya yaitu terjadinya pergeseran konsep dasar dakwah, dari orasi ke transformasi, konversi ke sivilisasi, daā€™i ke madā€™u, globalisasi barat ke internasionalisasi islam, dan dari benturan budaya ke dialog peradaban. Kemudian yang kedua, terjadinya pergeseran pesan dan konten dakwah (misi profetik dan Islam rohmatan liā€™alamin) terjadinya pergeseran dari  regiusitas ke spiritualitas, ritual ke moral, kesalehan individu ke kesalehan social, pencitraan ke pembentukan karakter, dan universalisme islam ke kosmopolitanisme peradaban Islam. 



Narasumber lain, sebagai pembanding terhadap Buku ini, disampaikan oleh Dindin Solahudin, Guru Besar Ilmu Dakwah FDK UIN Bandung, menjelaskan tentang Konsep baru dakwah merespon tantangan dan peluang globalā€™ Pendekatan dan metode baru dakwah bagi kaum milenial era digital, dan Mendorong kemampuan dāā€™I menggunakan ICT. Lebih lanjut, ia menyampakan bahwa pada era tranfaransi dan tranformasi ini, dakwah harus melakukan Rekontruktif transformatif, Memahami tren madā€™uw Memahami dinamika madā€™uw Memahami kebutuhan madā€™uw , dan berorientasi Dakwah Problem Solving.

Pembanding lain, yaitu Aang Ridwan, sebagai daiā€™I muda parktisi dakwah di media social, mengatakan tantangan Dakwah di Media Sosial yaoitu antara Popularisasi dan Banalisasi. Aang yang memiliki channel aangridwan official, dengan berbagai kreasi nama programnya, menyebutkan banyak permasalahan tentang dampak media sosial di kalangan milenial, yaitu terjadinya Konfrontatif, menggunakan medsos untuk produksi, reproduksi dan distribusi content dakwah, dan terjadinya Reaktif, memilah dan memilih, manfaat dan mudhorotnya, adanya Hidden Agenda (Atheisme, Agnostisisme, Anarkisme, Narsisime, materialisme), Juga banyak konten sampah.
Termasuk terjadinya komodifikasi dakwah, fetisisme subjek dakwah, dan reduksiontik kepakaran. Lebih lanjut aang menjelaskan, kompleksitas dakwah di media sosial, salah satunya adalah pada aspek teknis membutuhkan bagiamana mengetahui alur proses produksi yang memerlukan waktu (baik untuk proses pra produksi, produksi, pasca produksi).

Dari berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta diskusi, salahtunya menekankan penting nya literasi digital bagi para netizen, supaya tidak terjadinya perang komentar yang saling menyerang, mengejek, dan mereduksi dari nilai dakwah itu sendiri, yaitu dengan literasi dakwah digital bagi para pengguna media sosial. Para peserta juga memberikan apresiasi terhadap acara yang dilaksanakan secara daring ini.



Acara diskusi dan bedah buku ini berjalan baik dan lancar, kemudian sebagai closing Fathin Anjani Hilman menutup acara dengan mengucapkan terima kasih kepada prenadamedia yang telah mensupport acara ini, juga pemberian sertifikat secara simbolik kepada para narasumber dan photo Bersama peserta. Azwar Mudakir Ridwan dan Cecep Abdul Rahman, sebagai host dan tim IT menyampaikan bahwa selain melalui media zoom, acara diskusi dan bedah buku ini, disiarkan melalui youtube FDK UIN SGD Bandung.

Aep Wahyudin, sebagai pelaksana acara diskusi dan bedah buku ini, yang juga sebagai Ketua KPM FDK menambahkan, bahwa acara ini sebagai manifestasi penjaminan mutu akademik tentang core grand of thingking kedakwahan secara dialektik teks dan konteks dalam forum public sphere di ruang virtual.

Stempel hada stamp

BERITA TERKAIT

Sports

Berita Terkini

Berita Populer

NEWSLETTER

Subscribe to our newsletter to get notification about new updates, information, discount, etc..