Ridwan Kamil : TPPAS Lulut-Nambo Ditargetkan Bisa Beroperasi Juli 2020

  • Redaktur by Wawan Jumat, 21 Des 2018, 13:28

JAVANEWS.TV | BOGOR, - 

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meresmikan acara ground breaking Pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Luna (Lulut-Nambo) di desa Lulut-Nambo Kabupaten Bogor, Jumat (21/12/2018)

Pembangunan TPPAS Nambo tersebut membutuhkan waktu paling lambat selama 18 bulan. Sehingga ditargetkan bisa selesai paling lambat pada Bulan Juli 2020.

Bahkan ditargetkan sudah dapat beroperasi dan menerima sampah dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan.

Dalam hal itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berkomitmen untuk mengolah sampah perkotaan yang berasal dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (“TPPAS”) Regional Luna (Lulut - Nambo).

TPPAS Luna sendiri menggunakan teknologi termutakhir yang ramah lingkungan agar dapat memperpanjang umur TPPAS tersebut dan sekaligus mengolah sampah menjadi sumber daya.

Proyek tersebut direncanakan untuk mengolah sampah 1.650 ton/hari sampai dengan maksimum 1.800 ton/hari.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan PT Jabar Bersih Lestari (“PT. JBL”) untuk Penyediaan Infrastruktur TPPAS Regional Nambo pada tanggal 21 Juni 2017 dengan nilai investasi sebesar USD 46 juta.

Proyek Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan PT. JBL dalam penyediaan infrastruktur TPPAS Regional Luna merupakan proyek pertama dan akan menjadi pelopor dalam pengolahan sampah secara modern dalam skala besar di Indonesia.

Sebagai mitra dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, PT. JBL akan melakukan jasa pengolahan sampah yang dikirimkan oleh 4 Kabupaten/Kota ke TPPAS Regional Lulut – Nambo.

Kemudian PT. JBL akan mengolah sampah tersebut untuk menjadi bahan bakar turunan batu bara atau disebut juga Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara untuk pabrik semen, yaitu PT Indocement Tunggal Perkasa (PT. ITP).

PT. JBL akan mendapatkan pembayaran biaya jasa pengolahan sampah (tipping fee) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan juga pendapatan atas penjualan RDF dari PT. ITP.

Pengolahan sampah di TPPAS Regional Luna ini akan memberikan keuntungan bagi semua pihak, yaitu:

1. Keuntungan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat seperti halnya,
• Terselenggaranya pengolahan dan pemrosesan akhir sampah di TPPAS Regional Nambo melalui kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Perseroan sebagaimana telah disepakati dalam Perjanjian Kerjasama;

• Pelayanan pengelolaan sampah bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan dapat terselenggara dengan baik;

Baca Juga:

Unik Kaos Kaki Ber-AC

Museum Gedung Sate Jadi Trend Wisata Baru Saat Ini

•	Penghematan dalam biaya investasi landfill dan pengelolaan landfill yang baru dikarenakan sampah yang masuk di TPPAS Regional Nambo akan diolah terlebih dahulu sehingga akan memperpanjang umur TPPAS;

• Implementasi dari Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yaitu untuk mencapai tujuan meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

2. Keuntungan bagi PT. JBL
• Mendapatkan pembayaran atas jasa pengolahan sampah dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan penjualan RDF dengan harga yang saling menguntungkan dengan mempertimbangkan kelayakan proyek.

3. Keuntungan bagi PT. ITP
• Memperoleh bahan bakar alternatif yang (green fuel) sesuai dengan tujuan pengembangan visi dan misi perusahaan sebagai Green Industries;

• Memperoleh harga bahan bakar alternatif (RDF) dengan harga kompetitif dengan batu bara.

Teknologi yang akan digunakan pada proyek ini adalah Mechanical Biological Treatment (“MBT”) yang dirancang untuk menghasilkan RDF dan kompos. Prinsip pengolahan sampah dengan teknologi MBT ini adalah melalui dua tahapan, yaitu secara mekanikal dan secara biologikal.
Seluruh proses MBT terdiri dari empat sistem utama yaitu :

1. Penerimaan Sampah

2. Pengolahan tahap awal (Pre Treatment System), yaitu sampah disortir secara manual untuk memisahkan atau mengambil sebagian sampah anorganik yang dapat di daur ulang. Kemudian sebagian sampah lainnya akan dicacah untuk diperkecil ukurannya.

3. Sistem pengeringan sampah (Bio Drying), adalah proses untuk mengurangi kadar air dalam sampah selama + 3 minggu.

4. Pengolahan tahap akhir (Post Treatment) dan Sistem Produksi RDF berdasarkan kriteria dari pengguna RDF, yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa.

Pengendalian dampak lingkungan melalui resirkulasi lindi (air limbah sampah) kedalam biodrying yang bertujuan untuk mempercepat proses penguapan dan pengeringan sampah.

Sistem resirkulasi ini juga diharapkan dapat mencegah pencemaran badan air disekitar lokasi pengolahan.

Pengolahan sampah dengan teknologi ini akan menghasilkan RDF sebanyak 35% dari sampah yang diolah dan maksimal 10% berupa sisa sampah yg tidak terbakar seperti tanah, pasir, kerikil (ditimbun secara sanitary landfill) sampah jenis logam didaur ulang dan selebihnya berupa air yang menguap ke udara.

Info lanjut simak javanews.tv

Stempel hada stamp

BERITA TERKAIT

Sports

Berita Terkini

Berita Populer

NEWSLETTER

Subscribe to our newsletter to get notification about new updates, information, discount, etc..